Tahun 1899 seorang perempuan berdarah ningrat menolak disapa Raden Ajeng. Sebagai putri bupati, ia sebenarnya berhak menerima penghormatan itu. Tapi ia menolaknya dengan segala alasan. Di sepucuk suratnya, perempuan itu menulis: Panggil Aku Kartini saja, itulah namaku! Kartini yang kita tahu bukan sekadar pelopor emansipasi perempuan, melainkan juga ?pengkritik yang tangguh dari feodalisme buda…
Buku ini secara lengkap menghadirkan surat-surat, kumpulan artikel, memorandum, dan korespondensi asli yang ditulis oleh Kartini. Surat-surat dan petisi yang ia tulis ditujukan untuk memperjuangkan hak rakyat agar memperoleh kemerdekaan nasional, jauh sebelum rekan-rekan prianya melakukannya di hadapan publik. Kartini menggunakan tulisannya untuk memberikan edukasi kepada Belanda dan para kolon…