Dengan membaca buku ini, kita sebagai pembaca akan sadar bahkan merindukan kenyataan bahwa dari biskuit itu tersimpan persoalan mulai dari rindu, cinta, kenangan, keluarga, dan persoalan besar termasuk negara. Ditulis dengan gaya bahasa yang santai, ringan, dan mudah dipahami serta wolak-walik kata yang menarik, dan tentu jenaka yang tidak terperi.
Dari kamar mandi yang jauh dan sunyi saya ucapkan Selamat Menunaikan Ibadah Puisi. Sabda sudah menjadi saya. Saya akan dipecah-pecah menjadi ribuan kata dan suara. Tubuhku kenangan yang sedang menyembuhkan lukanya sendiri. Menggigil adalah menghafal rute menuju ibu kota tubuhmu. Lupa: mata waktu yang tidur sementara. Tuhan yang merdu, terimalah kicau burung dalam kepalaku. Kita adalah cinta yan…